| Hardikan Pada Hawa Nafsu |
|
|
|
| Ditulis oleh DR. Aidh Abdullah Al-Qorni |
|
kunci-kunci ilmu pengetahuan, namun ia terikat hati dengan dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Tidaklah telah tiba bagi manusia untuk memerdekakan ruhnya dari perbudakan, ketertutupan dan kemurungan, lalu berjuang keras, bekerja serius dan terus mencari jati dirinya. Sesungguhnya dia meninggalkan dirinya sendiri bukan ditinggalkan. Dia lupa bukan dilupakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apakah manusia mengira, bahwa ia dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al-Qiyamah: 36) Sesungguhnya nilai jiwa itu adalah perbuatan baiknya, kreativitas dan produksinya. Sesungguhnya keterpurukan jiwa ada pada sikapnya yang lembek, tertutup dan menakutkan. Yakni, sikap yang disebabkan karena ‘ngantuknya’ ruh dan tidurnya hati. Sudah berapa banyak orang yang menyeru? Sudah berapa banyak orang yang memberi ingat? Sudah berapa banyak nasehat yang menggema? Namun, kenapa mereka tetap lalai! Sebagian orang-orang terhormat mencela diri mereka sendiri atas sikap hidupnya yang lalai. Mereka melakukan muhasabah terhadap dirinya dan menyatakan pencelaannya atas semua kelakuannya. Sebab nafsunya demikian benci terhadap kerja keras dan lebih memilih maksiat daripada taat, senang berleha-leha daripada berkomitmen. Ia lebih menyenangi pengangguran daripada ketekunan. Barangsiapa yang menaati nafsunya daia akan binasa dan dia akan masukkedalam barisan orang-orang yang sesat dan terjungkal bersama orang-orang yang jatuh. Wahai orang yang merdeka dan sadar! Hardiklah nafsu anda dan ajak ia untuk menaiki tangga-tangga kemuliaan. Lakukan pengorbanan, pengabdian, dan kejar kemenangan, meski kedermawanan kadang membawa kefakiran atau keberanian kadang menimbulkan peperangan. |






![]() | Hari ini | 513 |
![]() | Kemarin | 420 |
![]() | Minggu ini | 933 |
![]() | Minggu lalu | 3508 |
![]() | Bulan ini | 11502 |
![]() | Bulan lalu | 17722 |
Home | RSS Feed | Supported by : Annahl.Net |