Konsultasi Ibadah

Mengulang Shalat krn tidak Khusyuk

16 May 2012
article thumbnaiAssalamu alaikum. Saya mau bertanya bolehkah kita melaksanakan shalat fardhu dua kali dengan alasan bahwa shalat yang pertama kurang khusyuk? terima kasih. Wassalam.

Konsultasi Keluarga

Hukum Memelihara Burung

10 May 2012
Assalamu'alaikum wr wb Saya mau tanya,, bagaimana hukumnya menurut syariat islam memberikan jangkrik muda hidup untuk burung cender yang saya pelihara??dan apa hukum dasar dari memelihara burung...

Buletin Al-Iman

Riya’ Dalam Ibadah

18 May 2012
Di antara syarat diterimanya amal shalih adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang yang melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain maka ia telah terjerumus pada perbuatan...

Majelis Al-Iman

Persatuan Adalah Buah Persaudaraan

18 May 2012
Di antara buah dari ukhuwwah adalah "Al Wahdah" (bersatu) sebagai lawan dari kata "Al Firqah," yang artinya berpecah belah. Masyarakat Islam yang bersaudara adalah masyarakat yang satu dalam masalah...
Kritik-kritik Sunni terhadap Syiah PDF Print E-mail
Ditulis oleh Kholili Hasib   
AddThis Social Bookmark Button

SEMENJAK kasus Bangil 15 Pebruari 2011 -tahun lalu- hingga kasus Sampang 29 Desember 2011 baru-baru ini, Syiah menjadi sorotan publik. Beragam respon -baik dari tokoh maupun media- telah mengemuka, yang kesemuanya bisa menjadi alasan agar kita lebih membuka akar persoalan yang sesungguhnya. Kritik yang ditujukan kepada Syiah

sejauh ini tampak masih rasional dan proporsional, sebagaimana yang telah ditulis oleh  Prof. Dr. Mohammad Baharun (Ketua Komisi Hukum MUI Pusat) di harian Republika pada (24/01/2012).

Data Ilmiah

Ulama’ Sunni selama ini mengkritik dengan membeberi data-data pustaka Syiah sekaligus pengalaman di lapangan. Di kalangan Sunni, referensi-referensi pokok Syiah saat ini memang sudah tidak asing lagi. Kitab-kitab pokok seperti al-Kafi, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, Tahdzib al-Ahkam, dan al-Istibshar sudah di tangan mereka. Beberapa pengkaji ternyata tidak mencukupkan diri dengan data pustaka itu. Mohammad Baharun, misalnya, lebih dari dua puluh tahunan memiliki pengalaman berinteraksi dengan penganut Syiah.

Disertasinya di IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2006 yang berjudul Tipologi Syiah di Jawa Timur merupakan hasil rekam pengamatan beliau. Saya sendiri waktu itu ikut membantu mencari data di lapangan. Ada banyak hal yang dapat diperoleh di lapangan, setidaknya untuk meng-‘kroscek’ data pustaka dengan pengamalan Syiah di lapangan.

Saya sempat bertemu dengan seorang tokoh Syiah di Pasuruan. Diksusi panjang tentang isu tahrif al-Qur’an terjadi waktu itu. Saya mendapatkan poin penting di sini. Dengan jujur, dikatakan bahwa memang sesungguhnya tahrif itu ada. Bahkan ia mengaku akan menerbitkan buku tentang ayat-ayat al-Qur’an yang ia katakana hilang. Namun ide tersebut, menurut pengakuannya, dicegah kawan-kawannya. Dikhawatirkan akan menimbulkan kisruh di kota tersebut.

Di sini artinya, tudingan bahwa Syiah meyakini al-Qur’an mushaf Ustmani tidak orisinil bukanlah tudingan yang mengada-ada. Baik secara faktual di lapangan maupun data pustaka Syiah, isu tahrif al-Qur’an tersebut memang fakta yang tidak bisa ditutupi kalangan Syiah.

Kritik dari kalangan Sunni merujuk kepada kitab al-Kafi -kitab rujukan Syiah paling otoritatif – untuk membuktikan Syiah meyakini ada tahrif dalam al-Qur’an. Di antaranya ditulis dalam al-Kafi; “Dari Abi Abdillah as, beliau berkata: Sesungguhnya ayat-ayat al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril as kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah sebanyak 17000 ayat” (al-Kafi, Juz II halaman 634).

Dalam penelitian tim penulis Pesantren Sidogiri, keyakinan ini dianut oleh mayoritas (ijma’) ulama Syiah bahkan menjadi perkara yang aksiomatis.

Sedangkan kalangan Syiah kontemporer biasanya menampik isu tersebut. Namun dengan menyodorkan fakta di lapangan bahwa di kalangan Syiah,  keyakinan tahrif itu tetap ada, seperti yang saya tulis di atas. Maknya cukup wajar bila Sunni menuding Syiah kontemporer sedang memasang topeng taqiyah.

Apalagi ditemukan di dalam kitab al-Kafi petunjuk anjuran untuk bertaqiyah dalam soal isu tahrif al-Qur’an ini. Dalam kitab tersebut juz dua dikemukakan bahwa suatu kali Abu Abdillah, Imam Syiah, ditanya pengikutnya, “Wahai Aba Abdillah, saya mendengar bacaan al-Qur’an orang-orang di sana yang tidak sama dengan bacaan yang  kami baca. Sang Imam lantas menganjurkan untuk memakai bacaan orang-orang (bacaan al-Quran kaum muslimin), tetap dalam hati yakin kelak di hari kiamat Imam terakhir akan membawa al-Qur’an yang asli.

Dengan demikian, apa yang terjadi di dalam Syiah kontemporer, yang mengelak adanya isu tahrif al-Qur’an dapat ditafsirkan sebagai metode taqiyah belaka. Baik bukti pustaka Syiah maupun bukti faktual di lapangan menunjukkan mereka memang meyakini adanya tahrif. Hanya saja, hal itu ditutupi dengan metode taqiyah.

Dua pendekatan ini memang penting untuk dipakai, sebab terkadang orang tidak langsung percaya dengan pustaka Syiah. Maklum, pustaka Syiah tidak mudah ditemui di kalangan awam. Kalangan Syiah kontemporer pun bisa mengelak, bahwa Sunni menyalah-tafsirkan teks-teks klasik Syiah.

Jujur Terbuka

Sejauh ini, apa yang telah dilakukan Sunni sudah cukup proporsional. Kritikus Sunni kenyatannya lebih terbuka dalam berdiskusi. Argumen-argumen antagonistik tidak menjadi selera peneliti Sunni.

Pada tahun 2007, enam santri senior Sidogiri yang dikomandani ustadz Ahmad Qusyairi menyusun buku “Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)”.

Buku ini menjawab buku Quraish dengan membeber literatur-litelatur pokok Syiah. Tim penulis tersebut sempat menulis surat ajakan kepada Quraish untuk berdiskusi. Sayangnya surat itu tak direspon.

Jawaban-jawaban Fahmi Salim di Republika (06/01/2012) terhadap tulisan Haidar Bagir berjudul “Syiah dan Kerukunan Umat” di Harian yang sama  pada (20/01/2012) juga sudah ilmiah.

Fahmi Salim mengukip kitab-kitab Syiah dan Ahlus Sunnah lengkap dengan halamannya. Cara ini memang harus dilakukan, agar tidak dianggap asbun (asal bunyi).

Karena ini perdebatan akidah maka harus terbuka, agar tidak menimbulkan kerancuan-kerancuan. Kejujuran wajib dikedepankan. Jika dimungkinkan, referensi-referensi kedua pihak, Sunnah dan Syiah, dibawa ke meja diskusi. Jikapun ada tuduhan Sunni keliru menafsirkan teks-teks klasik Syiah, maka di meja diskusi Syiah bisa berkesempatan menjelaskan secara jujur.

Sekali lagi, di meja disksusi diharapkan Syiah melepaskan dulu taqiyahnya, agar semua menjadi jelas. Kejujuran dan keterbukaan adalah cara yang ilmiah. Diharapkan dua hal itu –jujur dan terbuka- dikedepankan dalam budaya kritik di kalangan Sunni maupun Syi’i.

sumber: www.hidayatullah.com

 

Al-Iman Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini510
mod_vvisit_counterKemarin420
mod_vvisit_counterMinggu ini930
mod_vvisit_counterMinggu lalu3508
mod_vvisit_counterBulan ini11499
mod_vvisit_counterBulan lalu17722

Hari ini: 20 May 2012

MP3 Player

Stiker Doa Sehari-hari

Please wait while JT SlideShow is loading images...
Doa bangun tidurDoa keluar WCDoa keluar rumahDoa masuk WCDoa akan tidurDoa akan makanDoa ketika bercermin

Donasi Orang Tua Asuh

donasi orang tua asuh

Iklan Anda

Paintball Jakarta
Segera Hubungi Kami di Telepon: 021-328 322 05 (Hasan)

Dunia Islam

Mesir Tutup Rumah Ibadah Syi’ah

18 May 2012
Hidayatullah.com--Rumah ibadah yang digunakan penganut Syi’ah untuk melaksanakan aktivitas peribadatan mereka atau yang biasa disebut husainiyah yang baru saja dibuka oleh tokoh Syi’ah Libanon Al...

Berita Nasional

KH Hasyim MUzadi: Tolak Konser Lady Gaga Sudah Tepat

20 May 2012
Hidayatullah.com -- Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menilai langkah polisi tidak mengeluarkan izin konser diva Amerika Serikat Lady Gaga sudah tepat.

Berita Internasional

Perempuan Penghina Nabi itu Dapat Penghargaan Jurnalisme

11 May 2012
Hidayatullah.com--Penulis dan mantan politisi Belanda, Ayaan Hirsi Ali, yang pernah dianggap menghina Nabi Muhammad  dikabarkan akan menerima Penghargaan Axel Springer Jerman, Kamis (10/05/2012)...

Fatwa

Suap yang Dibolehkan Agama

15 May 2012
REPUBLIKA.CO.ID,  Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, ia berkata, “Rasulullah melaknat pemberi suap dan penerima suap.” (HR Ahmad, Adu Daud, Ibnu Majah, Tirmizi, al-Hakim, dan al-Baihaqi). Para...

Home | RSS Feed | Supported by : Annahl.Net |

Top